Senin, 09 September 2013

[Review Buku] 1 Perempuan 14 Laki-laki



Judul : 1 Perempuan 14 Laki-laki (kumpulan cerpen).

Penulis : Djenar Maesa Ayu.

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama.

Tahun terbit : Cetakan ketiga April 2011

Tebal halaman : 124 halaman + cover



Jadi, ini memang buku yang lama yaitu tahun 2011, tetapi aku baru saja mendapat buku ini hasil “merampok” koleksi buku Kakak yang sudah lama nggak tahu mau dikemanakan buku-bukunya. Langsung comot buku tulisan Djenar maesa ayu. Karena covernya yang sederhana tetapi khas Djenar yaitu perempuan yang membuka kakinya ke atas sehingga membentuk huruf V. Tentunya, secara cover saja sudah mengundang jika cerpen ini bakalan menjurus ke aras “sana” kea rah hubungan intim, apalagi jika ini juga cerpen kolaborasi Djaenar dengan 14 Laki-laki yang familiar di dunia hiburan maupun sastra.

Setelah halaman daftar isi kita akan dibawa ke penjelasan tentang buku “1 Perempuan 14 Laki-laki” bagaimana Djaenar membutuhkan waktu lama untuk menulis cerpen karena sibuk dengan dunia sinematografi. Kemudian mulai prose penulisan kumpulan cerpen yang sengaja menulis tanpa konsep, karena Djenar percaya bahwa inspirasi bukan suatu yang bisa didatangkan, namun inspirasilah yang mendatanginya. Jadi, cerpen ini merupakan cerpen kolaborasi, antara Djenar dengan 14 Laki-laki. Cerpen ini ditulis bergantian kalimat perkalimat, satu kalimat ditulis oleh Djenar, satu kalimat lagi ditulis oleh partnernya.

Seperti yang aku duga, jika memang tidak ada konsep dan mengalir begitu saja ditambah ditulis secara bergantian kalimat perkalimat tidaklah selalu mudah dipahami oleh pembaca (terutama aku), ada beberapa cerpen yang kurang nyambung (atau aku yang kurang paham). Jika itu terjadi, maka harus membacanya berkali-kali hingga paham. Di cerpen pertama saja sudah bingung yaitu cerpen kolaborasi antara Djenar dengan Agus Noor yang berjudul “Kunang-kunang dalam bir”. Aku tahu sih saat yang di kafe itu merupakan laki-laki yang menunggu wanita (mantan kekasih) yang ternyata sudah memilki suami. Nah, ketika membaca pertama kali bingung dengan dialognya (mana yang bicara itu laki-laki dan mana yang bicara saat itu wanita) dan juga ketiak flashback. Setelah membaca yang kedua kali, aihh.. sedap ceritanya “maknyes” gitu.

Lanjut lagi ke cerita yang ternyata mudah ditebak yaitu kolaborasi antara Djenar dengan Indra Herlambang dengan judul “Menyeruput kopi di wajah tampan” bukan bermaksud menjudge karena setelah membaca semua cerpen yang ada di buku ini, cerita ini yang langsung tahu jika ini bercerita tentang percintaan seorang Gay, meskipun endingnya dibuat tak terduga tetapi memang saat membca dari sudah tahu. Oiya, semua cerpen ini mempunyai kesamaan, selain gaya khas Djenar yaitu yang berbau intim, cepern ini memiliki ending yang tidak terduga.

Nah, yang terkahir yang membuat “Ini cepern keren!” yaitu kolaborasi antara Djenar dengan Butet Kartaredjasa dengan judul “Balsem lavender”. Mengapa aku jatuh hati dengan cerpen tersebut karena cerita yang sederhana dan sangat mungkin ada di sekitar kita, cerita yang ringan, lucu namun akhir yang buat tercengang dan ketawa lagi karena memang lucu, menghibur.

Banyak kekurang dan kelebihan dalam cerpen ini, memang jika kolaborasi tentu sulit menyamakan pikiran dengan partner tetapi tidak merasa kecewa karena “gong’ dari cerita ini ditaruh di akhir cerita yaitu kolaborasi dengan Butet Kartaredjasa.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar