Senin, 21 Juli 2014

Kutuntun Kau Menjadi Pelita

Kutuntun Kau Jadi Pelita.


Judul : Kutuntun Kau Menjadi Pelita (Perjuangan Inspiratif Para Bunda Tokoh Pengubah Dunia).

Penulis : Diyah Kusumawardhani.

Editor : Lis Sutinah.

Penerbit : Visimedia.

Tahun terbit : 2014.

Halaman : 162 halaman.

ISBN : 979-065-213-5.


Blurb :

Tidak akan ada yang menyangka bahwa pada usia tujuh tahun, Thomas Alva Edison, seorang penemu paling produktif dalam sejarah Amerika dikeluarkan dari sekolah karena dianggap "kacau" dan tidak layak untuk bersekolah dalam waktu yang lama. Sejak saat itu, sang bunda bertekad untuk mendidik sendiri anaknya hingga berhasil menggali bakat Thomas terhadap pengetahuan. Ada pula kisah Rose Kennedy yang berkat ketegasan dan kedisiplinannya berhasill melahirkan tokoh - tokoh besar, termasuk salah satunya Presiden ke-35 Amerika, Jhon F. Kennedy, serta masih banyak kisah para bunda dari tokoh - tokoh besar lainnya.

Buku ini menyajikan kisah para bunda tokoh pengubah dunia dengan beragam latar belakang dan lintas zaman. Mereka telah berhasil mendidik dan mencetak pribadi unggul pasa masanya. Anda akan takjub sekaligus terharu menyaksikan kisah perjuangan mereka dalam mendidik putra-putrinya hingga menjadi orang - orang besar yang mampu mengubah dunia. Mereka punya cara - cara tersendiri dalam mengasuh sang anak. Beberapa dari para bunda ini hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang sederhana, tetapi dengan kasih sayang, kegigihan, dan pengorbanannya mereka mampu menuntun sang anak ke gerbang dunia.

Lalu siapa lagi perempuan yang paling banyak memengaruhi dan memberi inspirasi dalam buku ini? Apa saja metode yang mereka terapkan dalam mendidik sang anak? Bagaimana pengaruh yang anak terima dari sang bunda hingga menjadikannya tokoh berpengaruh di dunia? Semuanya akan terjawab dalam buku ini. Hal terpenting adalah peran besar bunda dalam menuntun sang anak menjadi pelita bagi dunia yang dapat dijadikan inspirasi bagi para bunda dalam mengasuh, mendidik, dan membesarkan putra-putrinya hingga mereka pun bisa menjadi orang - orang hebat. Karena sesuai pepatah, selalu ada perempuan tangguh di balik kesuksesan tokoh - tokoh besar.


Resensi :


"Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci" - Aminah.
Kisah pengorbanan seorang Ibu dalam buku "Kutuntun Kau Menjadi Pelita" diawali dengan cerita perjuangan seorang Ibu yang bernama Aminah binti Wahab yang tidak lain merupakan Ibu dari Muhammad SAW. Diceritakan bagaimana kehidupan Aminah sebelum bertemu dengan Abdullah bin Abdul Muthtalib. Kedua orangtuan Nabi Muhammad SAW memang dijaga keturunannya oleh ALLAH SWT, karena jika ditelusur secara silsilah, baik dari keluarga Aminah maupun Abdullah tidak ada yang melakukan keburukan, bahkan keluarga dari kedua belah pihak merupakan keluarga terhormat, meskipun kehidupan keluarga Abdullah lebih sederhana daripada keluarga Aminah.

Kelahiran Sang rasul pun, ALLAH SWT memberikan tanda kepada Aminah jika bayi yang dikandungnya kelak menjadi Nabi.

Pada suatu malam, antara kondisi terjaga dan tidur sambil membayangkan perjalanan suaminya, Aminah mendengar suara seseorang yang bertanya, "Apakah engkau merasa telah hamil?" Aminah menjawab,"Aku tidak tahu." Suara itu muncul kembali, "Tidak tahukah kamu bahwa bayi yang berada dalam kandunganmu itu adalah orang termulia dan dia Nabi?"

Setelah Nabi Muhammad SAW lahir (Pada saat itu Muhammad sudah menjadi seorang anak Yatim), berdasarkan kebudayaan Arab pada masa itu, Muhammad tidak langsung diasuh oleh sang ibu. Bahkan Muhammd tak disusui oleh ibunya. Pengasuhan pada masa perkembangan Muhammad saat usia 0-5 tahun diserahkan kepada dua orang ibu susunya, Tsuaibah Al-Aslamiyah, yaitu budak perempuan pamannya, Abu Lahab, dan Halimah As-Sa'diyah.

Setelah usia lima tahun Muhammad dikembalikan lagi kepada Aminah. Mereka pun bergegas ke Madinah untuk memperkenalkan Muhammad kepada saudara - saudara kakeknya dari pihak keluarga Najjar dan Muhammad diperlihatkan tempat ayahnya meninggal dan tempat dikuburkannya.

Sebulan lamanya, Aminah dan Muhammad tinggal di Madinah. Ia dan rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Namun, di tengah perjalanan ketika mereka baru sampai di Abwa', Aminag menderita sakit yang sangat parah hingga ia meninggal dan dikuburkan di tempat itu. Muhammad pulang dan menangis dengan hati yang pilu.

Dalam surat Adh Dhuhaa (93) ayat enam.
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?"

Lain halnya dengan cerita perjalanan perjuangan seorang Klara Polzl, tidak lain tidak bukan adalah ibu dari Adolf Hitler sang diktator asal Jerman. Perlajanan kehidupan yang dilewati Adolf kecil penuh lika - liku, Kakak pertama, kedua dan ketiga Adolf yaitu Gustav, Ida dan Otto meninggal karena penyakit.

Semenjak sang ayah (Alois Hitler) pensiun dari dinas pemerintahan, kehidupannya berubah, pindah dari satu daerah ke daerah lain dekat Linz, membeli dan menjual peternakan, bertenak lebah, serta menghabiskan sebagian waktunya untuk minum di penginapan lokal. Alois berubah sikap menjadi tempramental.

"Saya tidak pernah mencintai Ayah saya, tetapi takut padanya. Dia cenderung mengamuk dan akan menggunakan kekerasan. Kasihan Ibu saya, ia akan selalu takut untuk saya." Adolf Hitler.

Sepeninggal Ayahnya (tahun 1903) kehidupan Adolf serba pas - pasan cenderung miskin, keadaan semakin memburuk ketika diketahui sang ibu menderita kanker payudara. Meskipun kanker payudara sudah diangkat, ternyata penyakit tersebut sudah berubah menjadi kanker ganas yang sudah menjalar di seluruh tubuh. Tim dokter pada saat itu sudah berusaha semaksimal mungkin, namun apa daya perkembangan teknologi dan perkembangan alat kedokteran belum canggih dan masih menggunakan teknologi sederhana, akhirnya pada tangga 21 Desember 1907, Klara meninggal dengan tenang. Ya, Adolf Hitler tumbuh dengan keadaan yang serba sulit, ditambah dengan sifat Ayahnya yang tempramental dan kepergiaan sang ibu yang membuat Adolf tak henti - hentinya merasa kehilangan.

Lima belas cerita sang ibu dari tokoh fenomenal yang ada di dunia ini sangat menginspirasi kita. Ternyata seorang diktaktor Adolf Hitler memiliki sangat berat sehingga sikapnya merupakan cerminan bagaimana ia menyikapi hidup.

Seorang Ibu tidak hanya melahirkan dan menyusui saja, tapi  ternyata seorang ibu merupakan pembentuk karakter seorang anak dan membentuk generasi masa datang. Berbahagialah engkau yang menjadi ibu maupun sekarang masih menjadi calon ibu, karena dengan tanganmu, engkau bisa merubah generasi yang akan datang.

Karena buku ini juga hampir menyerempet tentang sejarah seorang toko dan biografi, lebih baik membacanya dalam keadaan tenag dan konsentrasi, karena tidak sedikit aku mengulang setiap kata karena silsilah para tokoh juga cukup rumit, tapi tidak mengurangi rasa takjub akan peran seorang ibu yang perjuangannya sangat luar biasa.

3 komentar :

  1. Sangat menarik bahwa buku ini menceritakan ibu para tokoh besar dunia. Tak diragukan bahwa mereka sgt berpengaruh pada anak2nya. Saya sangat setuju bahwa ibulah yg membentuk karakter mereka sejak usia dini......

    BalasHapus
  2. Sepertinya bukunya menarik nih :)

    BalasHapus
  3. Resensi yang menarik... :)

    Jadi kangen Ibu nih... :)

    BalasHapus