Rabu, 01 Oktober 2014

Kaliluna Luka di Salamanca.

Kaliluna: Luka di Salamanca
Kaliluna Luka di Salamanca.
Penulis : Ruwi Meita.

Penyunting : Dyah utami.

Tahun terbit : 2014.

Penerbit : Moka media.

Halaman : 270 halaman.

ISBN : 979-795-854-X

Blurb :

Mimpi Kaliluna sebagai atlet panahan berakhir setelah jiwanya dan raganya tergores di sebuah malam yang kelam. Ia percaya, satu - satunya tempat yang dapat menyembuhkan jiwanya yang pecah adalah tempat yang asing, seperti Salamanca, Spanyol.

Tetapi berada di kota di mana sungai Tormes mengalir dan chuche memanjakan lidah, tak kunjung membuat jiwa kali tenang. Ia harus berhadapan dengan Frida, ibu yang meninggalkannya saat kecil dan Ibai, pemuda berdarah Vasco dengan sejuta mimpi dan sebuah rahasia.

Di antara desau dedaunan pohon ceri dan harapan yang tergantung pada gembok di Pozo de los Deseos, dapatkah kali kembali memanah bintang seperti dalam dongeng masa kecilnya atau haruskah ia remuk terinjak seperti semak conyza di pinggir dermaga?

Resensi :

Setelah aku membaca Rahasia hujan yang masih satu penerbit dengan Moka media, sepertinya memang banyak sekali perbedaan ya. Memang tidak membandingkan, namun setelah membaca novel remaja dan kemudian terjun untuk membaca novel dewasa, benar - benar loncatan yang memang menguras perasaan ya. Apalagi, novel Kaliluna luka di Salamanca in mengangkat tentang pelecehan seks*al. Oke, siapkan tisu di samping kamu #eh.

Awal membacanya, aku (pembaca) mulai menebak - nebak apa yang jadi konflik dalam buku ini, tapi masih belum mendapat petunjuk untuk menemukan konflik, Halaman - halaman awal masih diajak untuk menelusuri Salamanca dan karakter. Tapi, meskipun tempatnya asing dan memang membutuhkan catatan kaki untuk penjelasannya. Seperti di halaman 12, ada 5 catatan kaki. Dan harus rela untuk membaca atas-bawah, atas-bawah. Dan aku mengulang untuk membacanya agar lebih dapat feel jalan ceritanya. Yang menarik di sini, ternyata tidak hanya menceritakan tentang Kaliluna si tokoh utama, tetapi juga menceritakan tokoh Ibai. Bab pertama tentang Kaliluna, bab selanjutnya tentang Ibai. Di sini mulai lah ada sebuah petunjuk dan menguak sedikit demi sedikit garis merah di antara keduanya.

Meskipun di belakang novel ini dijelaskan jika Salamanca merupakan bagian dari Spanyol. Tetap saja aku search juga Salamanca, seperti apa sih Salamanca itu. Wow, benar - benar aprisiasi si penulis karena sampai begitu detail menggambarkan Salamanca, makanan, tradisi, logat bicara, bahasa, keturunan, pelabagai ras. Atmosfer di Salamanca dibawa ke dalam novel ini. Yakin deh baru pertama kali ini, mendengar Salamanca.

Kematangan dalam membangun novel ini tidak hanya settingnya saja, tapi juga membangun karakter pada tokohnya. Bagaimana membangun karakter Kaliluna sebagai korban pelecehan, trauma psikis dan tertutup.

Konflik tak hanya berpusat kepada Kaliluna. Karena belum selesai menebak bagaimana penyelesaian yang dihadapi Kaliluna, sudah disambut dengan konflik baru, konflik antara keluarga, pertemanan dan juga masa lalu. Berasa kayak rollercoaster. Di luar kontesk cerita, novel ini dihiasi oleh sketsa yang apik!


Quiero hacer contigo lo que la primavera hace con los cerogos.
Aku ingin melakukannya denganmu seperti yang musim semi lakukan dengan pohon ceri.
-halaman 158-

Coba deh berkali - kali baca tulisan spanyol, kalau dibaca terus, terdengar romantis sekaligus seksi, karena suara hidung agak gimana gitu #eh.

5 komentar :

  1. kayaknya kreen banget nie buku, cari di toko buku

    BalasHapus
  2. wah, penasaran juga jadinya...

    BalasHapus
  3. seru banget ceritanya ..
    gabisa baca bahasa spanyolnya hehehe susah ngucapin :p

    BalasHapus
  4. kadang buku yang konfliknya belum terlihat di awal suka bikin males nerusin ngebacanya, tapi yang ini sepertinya oke banget buat di abca :)

    BalasHapus
  5. waaah jadi penasran pengen baca nihhh

    BalasHapus